banner 728x250

Bencana Alam Picu Penutupan Perusahaan dan PHK Massal di Tapanuli Tengah

KABAR SUMUT

banner 120x600
banner 468x60
Foto : Bencana Alam Picu Penutupan Perusahaan dan PHK Massal di Tapanuli Tengah.(Ist)

Tapanuli Tengah | TIME LINE NEWS IDN.com,– Bencana alam banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh berdampak serius terhadap sektor industri dan ketenagakerjaan. Sejumlah perusahaan terpaksa menghentikan operasional, memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa daerah terdampak.

Salah satu yang paling terdampak adalah perusahaan pengolahan kayu di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Akibat terputusnya pasokan bahan baku kayu, lebih dari 1.000 karyawan perusahaan tersebut dirumahkan dan mengalami PHK.

banner 325x300

Berdasarkan data di lapangan, hingga kini akses jalan dan jembatan yang menjadi jalur utama transportasi truk pengangkut kayu belum kunjung diperbaiki. Kondisi ini menyebabkan rantai logistik lumpuh. Sejumlah perusahaan di Tapanuli Tengah dan wilayah sekitarnya terpaksa berhenti beroperasi karena tidak dapat menerima bahan baku maupun mendistribusikan hasil produksi.

Dampak bencana banjir dan longsor tidak hanya dirasakan di Tapanuli Tengah, tetapi juga di Tapanuli Utara, Kota Sibolga, Tapanuli Selatan, Aceh, dan Kepulauan Nias. Ribuan warga yang menggantungkan hidup sebagai buruh pabrik pengolahan kayu kini terancam kehilangan mata pencaharian.

Warga berharap pemerintah, khususnya Kementerian Kehutanan, segera mengambil langkah konkret dan solutif. Mereka menilai, selain perbaikan infrastruktur pascabencana, pemerintah perlu memastikan agar aktivitas industri tidak terhenti total.“Kami minta pemerintah tetap fokus pada kemanusiaan, bukan mempersulit pengiriman kayu. Kami warga hanya ingin bekerja,” ujar salah seorang warga Tapanuli Tengah, Rabu (31/12/2025).

Menurut warga, penutupan akses Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan (SIPUHH) semakin memperparah keadaan. Terhentinya sistem tersebut membuat pengiriman kayu ke pabrik tidak dapat dilakukan, sehingga perusahaan kehilangan bahan baku dan terancam tutup permanen. “Kalau tidak ada kayu, pabrik pasti tutup. Kami di-PHK, jadi pengangguran. Kami hanya butuh makan. Kami sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan kayu di Aceh dan Sumut,” ungkapnya.

Warga menyebut, bencana alam memang mulai mereda, namun ancaman bencana baru berupa pengangguran massal kini menghantui.“Habis bencana, terbitlah PHK,” ucap seorang warga asal Tapanuli Tengah dengan nada sedih.

Mereka mengakui Kementerian Kehutanan telah bergerak aktif dalam penanganan kerusakan hutan akibat bencana. Namun, warga meminta agar langkah tersebut tidak sampai menghentikan operasional pabrik pengolahan kayu yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup ribuan pekerja.“Kami butuh makan, kami harus bekerja,” harap warga.

Untuk itu, warga meminta pemerintah agar tidak menciptakan “bencana baru” berupa PHK massal. Mereka mendukung upaya pembenahan dan perlindungan hutan, namun berharap pengiriman bahan baku kayu ke perusahaan tetap dibuka agar roda ekonomi masyarakat dapat terus berjalan. (Red/Tim)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *