H. Muhajar Koto, BScAn, SKM, MKM.(foto/Ist/Sosial Media)
Rantau Prapat | Timelinenewsidn.com,– Hidup adalah perjalanan penuh makna, dan bagi H. Muhajar Koto, BScAn, SKM, MKM, perjalanan itu diisi dengan dedikasi, perjuangan, dan pengabdian kepada sesama. Lahir pada 15 Oktober 1950 di Rantau Prapat, dari pasangan (Alm) H. Jamarin dan (Almh) Hj. Ramlah Koto, ia tumbuh dalam keluarga sederhana di Batu Sangkar sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Selasa (11/3/2025)
Sejak kecil, tekadnya untuk mandiri sudah terlihat. Pada usia delapan tahun (1958-1966), ia bekerja sebagai penjual koran, menempuh perjalanan jauh dari Rantau Prapat ke Kebun Aek Nabara dengan menumpang truk pengangkut getah. Bau getah yang melekat di tubuhnya setiap malam kerap membuat sang ibu marah, tetapi baginya, bekerja keras adalah jalan menuju kemandirian.
Namun, bukan sekadar mencari nafkah yang ada di benaknya. Dalam perjalanan sehari-hari, ia sering melihat kecelakaan lalu lintas yang terabaikan. Keinginan untuk menolong tumbuh di hatinya, meski ia tahu dirinya masih kecil dan belum berdaya. Dari sanalah tekadnya muncul: ia ingin sekolah dan bekerja di bidang yang bisa menyelamatkan nyawa orang lain.
Menjadi Penata Anestesi dan Dedikasi Tanpa Batas. Doa dan usaha tak pernah mengkhianati. Berkat kegigihannya, ia berhasil menjadi seorang Penata Anestesi, profesi yang memungkinkannya membantu pasien dalam kondisi gawat darurat serta menangani pembiusan saat operasi. Selama 54 tahun, ia telah mengabdikan diri di dunia medis, menolong pasien dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat kurang mampu hingga tokoh-tokoh penting.
Tak hanya bekerja di rumah sakit, ia juga terlibat dalam berbagai misi kesehatan nasional. Beberapa di antaranya:
Tim Medis Rally Indonesia & Yamaha Racing/Touring Team
Tim Kesehatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 1975, 1985, 1989 (Jakarta) & 2007 (Samarinda)
Tim PAWALKES (Pelayanan Kesehatan) Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri (1980-2005)
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya adalah ketika ia menolong seorang ibu yang sudah tidak bernapas dalam penerbangan Adam Air rute Jakarta-Medan. Bersama Prof. dr. Tamsil, Sp.P (Ahli Paru), ia berusaha sekuat tenaga hingga ibu tersebut sadar dan bisa dibawa ke RS Elizabeth.
Di kesempatan lain, ia juga menolong pemilik Universitas Baiturrahmah yang mengalami sesak napas dalam penerbangan Padang-Medan. Dengan cepat, ia memberikan oksigen hingga kondisi sang pasien stabil dan bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat.
Namun, yang paling membanggakan baginya bukanlah menolong orang-orang penting, melainkan bisa memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat desa yang kurang mampu. Ia selalu percaya bahwa keahlian medis yang dimilikinya adalah anugerah dari Allah, dan tugasnya adalah menggunakannya untuk menolong sesama.
Tak Kenal Pensiun, Tetap Mengabdi di Usia 75 Tahun.
Di usia 75 tahun, semangatnya tak pernah surut. Sementara kebanyakan orang memilih menikmati masa pensiun, H. Muhajar Koto tetap aktif bekerja dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Baginya, selama tubuhnya masih mampu bergerak, ia akan terus menolong.
Kini, ia juga bangga melihat anak-anak dan cucunya tumbuh dengan baik. Salah satu cucunya bahkan sudah menyelesaikan kuliah di Fakultas Teknik UGM pada 2025 dan kini bekerja di Jakarta.
Di akhir pembicaraan, ia mengungkapkan satu pesan,“Hidup ini bukan sekadar tentang mencari rezeki, tapi bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena saat kita menolong, sejatinya kita sedang menabung kebaikan untuk akhirat.”
Sebuah kisah luar biasa dari seorang anak desa yang tumbuh menjadi pahlawan kemanusiaan. Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa keikhlasan, kerja keras, dan niat baik akan selalu menemukan jalannya.(Alinur Umar)