đź“· : Aktivis Pecinta Binatang Desak Pemerintah Tindak Dugaan Pengeliminasian Anjing di Kawasan Benoa.(Ist)
Bali | TIME LINE NEWS IDN.com,— Sejumlah aktivis pecinta binatang di Bali kembali mengangkat isu serius terkait dugaan pengeliminasian anjing secara tersembunyi di kawasan Pelabuhan Benoa. Aktivitas mencurigakan ini disebut terjadi di area belakang Tol Bali Mandara dan di sekitar kawasan belakang PT Pelindo, yang selama ini dikenal sebagai lokasi berkumpulnya anjing-anjing liar maupun anjing yang sengaja dibuang oleh pemiliknya. Kamis (28/11/2025)
Ditemukan Puluhan Anjing Hilang Mendadak. Menurut para relawan, area tersebut dihuni oleh sekitar 50 hingga 100 ekor anjing yang hidup secara liar. Selama bertahun-tahun, anjing-anjing tersebut dirawat oleh komunitas pecinta binatang dengan menggunakan dana pribadi. Mereka memberikan makan, melakukan sterilisasi terbatas, dan mengawasi kondisi kesehatan hewan-hewan tersebut.
Namun dalam beberapa minggu terakhir, relawan mulai menemukan kejanggalan. Beberapa anjing yang biasanya muncul setiap hari untuk diberi makan tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
“Kami datang setiap pagi dan sore untuk memberi makan. Tapi beberapa hari terakhir, banyak yang tidak muncul lagi. Ada indikasi kuat bahwa anjing-anjing itu diambil diam-diam. Kami khawatir ada pengeliminasian,” ujar Juliana salah satu aktivis.
Ia menjelaskan, relawan sebelumnya sudah pernah mendengar kabar bahwa ada pihak tertentu yang melakukan penangkapan dan eliminasi anjing di kawasan pelabuhan dengan alasan keamanan. Namun aktivitas tersebut dilakukan tanpa prosedur resmi, tanpa pemberitahuan kepada komunitas pecinta hewan, dan tanpa transparansi dari pihak terkait.

Relawan Bertahan dengan Dana Pribadi. Para pencinta anjing dan kucing yang tergabung dalam komunitas kecil ini mengaku telah bertahun-tahun merawat hewan-hewan liar tersebut secara mandiri. Mereka tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah maupun lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada perlindungan hewan.
“Biaya pakan per hari bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Itu belum termasuk perawatan jika ada yang sakit, vaksin, atau sterilisasi. Semua kami tanggung sendiri,” ungkap Juliana salah satu relawan lainnya.
Upaya para relawan ini juga dibatasi oleh akses wilayah yang berada di kawasan pelabuhan, di mana tidak semua area mudah dijangkau oleh masyarakat umum.
Meminta Pemerintah Ambil Sikap. Para aktivis menegaskan bahwa pemerintah harus memperhatikan isu ini secara serius. Mereka menilai pengelolaan populasi anjing liar memang penting, tetapi harus dilakukan sesuai standar kesejahteraan hewan (animal welfare), bukan dengan metode yang melanggar hukum atau dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Beberapa aktivis juga menyebut bahwa tindakan pengeliminasian hewan tanpa prosedur dapat melanggar Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta ketentuan internasional mengenai perlakuan terhadap hewan.
“Jika memang ada alasan keamanan atau regulasi tertentu, maka penanganan harus dilakukan terbuka dan sesuai aturan. Bukan dengan cara menghilangkan hewan-hewan itu tanpa prosedur,” tegas Desi seorang relawan
Masyarakat Pecinta Anjing Turut Resah, Selain aktivis, masyarakat umum yang kerap memberi makan anjing-anjing tersebut juga mengaku resah. Banyak di antara mereka yang sudah mengenal karakter masing-masing anjing dan merasa kehilangan saat beberapa hewan tidak lagi terlihat.
Para pecinta hewan berharap pemerintah daerah, Dinas Peternakan, otoritas Pelabuhan Benoa, dan pihak Pelindo dapat segera memberikan klarifikasi serta menggelar investigasi terkait dugaan tersebut.(NH)














