DAERAH  

Banjir di Tabagsel,Peringatan bagi Kita Semua untuk Menjaga Lingkungan. 

Oleh : Muslim Harahap, SH.,MH,Dosen Fakultas Hukum Universitas Harapan Medan Mahasiswa S-3 Ilmu Hukum UMSU Angaktan VII

banner 120x600
  • Oleh : Muslim Harahap, SH.,MH,Dosen Fakultas Hukum Universitas Harapan Medan Mahasiswa S-3 Ilmu Hukum UMSU Angaktan VII

Tabagsel (Sumut) | Timelinenewsidn.com,- Musibah banjir kembali melanda wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), termasuk Kota Padangsidimpuan. Hujan deras yang turun tanpa henti pada Kamis malam, 13 Maret 2025, menyebabkan air menggenangi permukiman warga, bahkan masuk ke dalam rumah dan tempat ibadah. Salah satu yang terdampak adalah Masjid Al Ubudiyah Sitataring, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, di mana aktivitas tadarus Al-Qur’an terpaksa dihentikan karena air mulai membanjiri bagian dalam masjid. Jumat (14/3/2025)

Banjir bukanlah kejadian baru di wilayah ini. Dari tahun ke tahun, musibah serupa terus terjadi, dan setiap kali banjir datang, masyarakat harus menghadapi kerugian besar, baik materiil maupun non-materiil. Kerusakan rumah, kehilangan barang berharga, penyakit akibat banjir, serta trauma psikologis adalah dampak yang dirasakan oleh banyak orang.

Namun, pernahkah kita bertanya, apakah ini murni bencana alam atau ada campur tangan manusia yang memperparah situasi?

Mengapa Banjir Terus Terjadi?

Secara alami, curah hujan tinggi memang bisa menyebabkan banjir. Namun, faktor lingkungan dan ulah manusia sering kali menjadi pemicu utama yang memperburuk keadaan. Ada beberapa penyebab utama mengapa banjir di Tabagsel, khususnya Padangsidimpuan, terus berulang:

1. Penggundulan Hutan yang Tidak Terkendali. 

Hutan adalah benteng alami yang berfungsi menyerap dan menahan air hujan. Ketika pepohonan ditebang secara masif tanpa ada upaya reboisasi, tanah kehilangan daya serapnya, dan air hujan yang seharusnya terserap oleh akar-akar pohon langsung mengalir ke permukiman, menyebabkan banjir.

Di Tabagsel, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, atau pemukiman tanpa perencanaan matang menjadi salah satu penyebab utama hilangnya daerah resapan air. Akibatnya, air hujan yang turun dalam jumlah besar tidak bisa terserap dengan baik dan langsung mengalir ke sungai, menyebabkan luapan yang berujung pada banjir.

2. Buruknya Sistem Drainase. 

Sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik juga menjadi faktor utama. Banyak saluran air yang tersumbat akibat sampah yang dibuang sembarangan. Akibatnya, air yang seharusnya mengalir dengan lancar menjadi terhambat dan menggenang, menyebabkan banjir di berbagai titik.

Di beberapa wilayah, pembangunan infrastruktur yang kurang memperhatikan aspek lingkungan juga memperparah keadaan. Banyak jalan yang dibangun tanpa mempertimbangkan jalur aliran air, sehingga ketika hujan deras turun, air tidak memiliki jalur pembuangan yang memadai.

3. Sungai yang Semakin Dangkal. 

Sungai di wilayah Tabagsel semakin dangkal akibat sedimentasi. Tanah yang terbawa oleh air hujan dari daerah perbukitan mengendap di dasar sungai, mengurangi kapasitas sungai untuk menampung air. Akibatnya, ketika debit air meningkat akibat hujan deras, sungai tidak mampu menampungnya, dan air meluap ke daerah permukiman.

Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat aktivitas manusia seperti penambangan liar, pembukaan lahan, dan pembuangan sampah sembarangan mempercepat proses sedimentasi ini. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka banjir akan menjadi ancaman yang semakin serius.

4. Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem. 

Perubahan iklim global juga memiliki dampak signifikan terhadap meningkatnya intensitas hujan. Pola cuaca yang tidak menentu, musim hujan yang lebih panjang, serta hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat menjadi faktor yang turut berkontribusi terhadap bencana banjir.

Namun, meskipun faktor ini bersifat alami, dampaknya bisa diminimalkan jika kita lebih peduli terhadap lingkungan.

Dampak Banjir bagi Masyarakat. 

Banjir tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga berdampak besar pada kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat. Berikut beberapa dampak yang sering terjadi akibat banjir:

✅ Kerusakan Infrastruktur dan Pemukiman

Banyak rumah, jalan, dan jembatan yang rusak akibat genangan air yang berkepanjangan. Masyarakat harus mengeluarkan biaya besar untuk perbaikan rumah dan fasilitas umum.

✅ Penyebaran Penyakit

Air banjir yang kotor menjadi sarang berbagai penyakit seperti diare, leptospirosis, infeksi kulit, dan demam berdarah. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya akses terhadap air bersih setelah banjir surut.

✅ Gangguan Aktivitas Ekonomi

Pasar, pertokoan, dan tempat usaha banyak yang lumpuh akibat banjir. Masyarakat yang bergantung pada hasil pertanian juga mengalami kerugian besar karena lahan mereka terendam air.

✅ Trauma Psikologis

Banjir yang berulang kali terjadi bisa menyebabkan trauma bagi anak-anak dan lansia. Ketakutan dan kecemasan menjadi hal yang sering dialami oleh korban banjir, terutama mereka yang kehilangan rumah atau anggota keluarga.

Bagaimana Kita Bisa Mencegah Banjir?

Bencana ini bukan sesuatu yang tidak bisa dicegah. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

1. Menjaga Kelestarian Hutan. 

Reboisasi harus menjadi program utama untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai daerah resapan air. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam menanam kembali pohon di daerah-daerah yang telah mengalami deforestasi.

2. Tidak Membuang Sampah ke Sungai dan Drainase. 

Kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan harus ditingkatkan. Membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai dan saluran air, hanya akan memperparah banjir.

3. Meningkatkan Sistem Drainase Kota. 

Pemerintah daerah harus memperbaiki dan memperluas sistem drainase agar mampu menampung debit air yang lebih besar. Selain itu, program pengerukan sungai untuk mengurangi sedimentasi juga harus dilakukan secara berkala.

4. Perencanaan Tata Kota yang Berwawasan Lingkungan. 

Pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek lingkungan hanya akan memperburuk kondisi alam. Oleh karena itu, perencanaan tata kota yang baik harus memperhatikan keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.

5. Edukasi dan Kesadaran Masyarakat. 

Setiap individu memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Program edukasi dan kampanye kesadaran harus terus digalakkan agar masyarakat lebih memahami pentingnya menjaga alam untuk mencegah bencana.

Saatnya Bertindak!

Musibah banjir yang terjadi di Tabagsel bukan hanya sekadar bencana alam, tetapi juga peringatan bagi kita semua bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Jika kita terus mengabaikan lingkungan, maka dampaknya akan semakin buruk di masa depan.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau pihak berwenang. Setiap individu harus turut berperan dalam menjaga lingkungan, mulai dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, hingga aktif dalam kegiatan-kegiatan pelestarian alam.

Banjir bukan takdir yang harus diterima begitu saja. Dengan kesadaran dan tindakan nyata, kita bisa mencegahnya. Mari bersama-sama menjaga lingkungan, demi masa depan yang lebih baik untuk kita semua!.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *