Medan | Timelinenewsidn.com,– Tidak banyak orang yang memiliki perjalanan hidup seberagam dan sekaya pengalaman H. Muhajar Koto, BScAn, SKM. MKM. Seorang tenaga medis senior, penyanyi berbakat, serta atlet yang diperhitungkan di dunia sepak bola dan bulutangkis. Di usia 75 tahun, ia masih terus berkarya, baik dalam bidang kesehatan, musik, maupun olahraga.
Dari Penata Anestesi ke Panggung Musik
Lahir di Rantau Prapat pada 15 Oktober 1950, Muhajar Koto awalnya dikenal sebagai seorang Penata Anestesi dengan pengalaman lebih dari 54 tahun. Dedikasinya di dunia medis telah menyelamatkan banyak nyawa, termasuk dalam situasi darurat di pesawat dan dalam berbagai misi medis nasional. Namun, di balik jas medisnya, ada seorang seniman dengan suara emas mirip Bee Gees.

Sejak masa muda, ia memiliki hobi menyanyi dan bahkan tergabung dalam grup vokal sejak bekerja di RSU Pirngadi Medan. Bakatnya membawanya ke panggung besar, di mana ia berkesempatan berduet dengan banyak penyanyi legendaris Indonesia, seperti:
✅ Ernie Djohan
✅ Endang Estairina
✅ Benny Panjaitan
✅ Utha Likumahua
✅ Victor Hutabarat
✅ Tanto Wijaya (Ketum DPP PAPPRI saat itu) – bahkan berduet hingga 5 lagu!
✅ Ibbie Messah
✅ Dian Piesesa
✅ Jhonny Iskandar
✅ Tommy J Pisa
✅ Ahmad Akbar, Ermi Kulit, Iche Trisnawati, dan masih banyak lagi.
Keaktifannya di dunia musik berlanjut hingga kini. Ia adalah bagian dari NOVEL (Nostalgia Lovers Club) Sumut, komunitas pecinta musik nostalgia yang aktif mengadakan berbagai acara. Bahkan, sejak 2020, ia telah sukses menggelar ajang Idola Nostalgia, kompetisi bernyanyi yang telah berlangsung dua kali (2020 & 2023), dengan final terakhir diadakan di Aula T. Rizal Nurdin, serta mendapat dukungan dari Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, dan Ibu Nawal Lubis. Rencananya, setelah Lebaran tahun ini, Idola Nostalgia 3 akan kembali digelar.
Bukan Hanya Musik, Tapi Juga Berprestasi di Olahraga
Tak cukup hanya di dunia medis dan musik, Muhajar Koto juga dikenal sebagai sosok yang diperhitungkan di dunia olahraga, khususnya sepak bola dan bulutangkis.
Olahraga Bulu Tangkis pernah juara 3 mendapatkan piala erunggu pada kejuaraan antar mahasisw se-Jakarta 1975 semasa gubernur DKI Jakarta dipimipin oleh Ali Sadikin.

Sementara itu sepakk bola pernah penjaga gawang club Sekolah Sepak Bola PS RS Cipto Mangunkusumo Jakarta saat di tonton oleh pelatih PSSI yang pada masa itu, Sucipto Suntoro, untuk latihan bersama club PSSI, ketertarikan itu, dikarenakan syarat faktor usia, tidak memungkinkan saya untuk masuk di jajaran persepakbolaan PSSI semasa itu.”ujar H. Muhajar Koto, BScAn, MKM, (MKes).

Dedikasi dan kiprahnya di berbagai bidang ini membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk terus berkarya dan menginspirasi. Baik di rumah sakit, di atas panggung, maupun di lapangan olahraga, H. Muhajar Koto tetap memberikan yang terbaik dengan penuh semangat.
“Hidup Ini untuk Memberi Manfaat”
Dalam perjalanan hidupnya, ia selalu berpegang pada prinsip:
“Hidup bukan hanya tentang mencari rezeki, tetapi juga tentang seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain.”

Sebuah kisah luar biasa dari seseorang yang tak hanya menyelamatkan nyawa sebagai tenaga medis, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan indah lewat musik dan menginspirasi lewat olahraga.
“Salam hormat untuk H. Muhajar Koto – Media Anestesi, penyanyi, atlet, dan inspirasi bagi kita semua!”



















