MEDAN | TIMELINENEWS.com — Sampah masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Namun, melalui kreativitas dan edukasi, barang bekas dapat dimanfaatkan kembali menjadi karya bernilai sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Selasa (27/10/2026)
Upaya tersebut dilakukan SavEnvironment, sebuah komunitas yang berfokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam merespons persoalan lingkungan di Kota Medan.
Sakdan, salah satu pendiri SavEnvironment, menjelaskan bahwa komunitas tersebut berawal dari tujuh orang yang mengikuti kegiatan United Nations Association. Meski terpilih, mereka tidak memperoleh pendanaan untuk melanjutkan proyek yang telah direncanakan.
Kendati demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk meneruskan gagasan yang telah disusun.
“Jadi dari United Nations ternyata kepilih tapi nggak dapat pendanaan. Akhirnya kami merasa kayaknya sayang deh perencanaan ini ditinggalin. Jadi kami lanjutkan lagi,” ujar Sakdan saat menceritakan awal terbentuknya SavEnvironment.
Dalam menjalankan kegiatannya, SavEnvironment menaruh perhatian pada berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat, mulai dari banjir, penumpukan sampah, hingga permasalahan nyamuk. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, komunitas ini berupaya mendorong keterlibatan warga dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pameran bertajuk “Yang Tertinggal di Bumi” yang digelar di Serayu Cafe. Pameran ini mengangkat persoalan sampah yang ditinggalkan manusia dengan memanfaatkan barang-barang bekas sebagai bagian dari dekorasi dan furnitur.
Melalui karya yang ditampilkan, pengunjung diajak memahami bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai barang buangan. Dengan pengolahan dan kreativitas yang tepat, sejumlah barang bekas masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna dan estetika.
Instalasi Sampah dan Permainan Interaktif
Pameran tersebut juga menghadirkan instalasi berbentuk gelombang laut yang tersusun dari sampah. Karya ini menggambarkan kondisi perairan yang tercemar akibat aktivitas manusia sekaligus mengajak pengunjung merefleksikan dampak sampah terhadap lingkungan.
Selain instalasi, SavEnvironment menghadirkan permainan interaktif menyerupai kegiatan memancing. Dalam permainan tersebut, pengunjung menggunakan alat pancing bermagnet untuk mengambil sampah dari area yang dilengkapi ilustrasi ikan.
Konsep ini memberikan pengalaman edukatif kepada pengunjung untuk mengenali persoalan pencemaran lingkungan melalui aktivitas yang menarik dan mudah dipahami.
SavEnvironment juga mengadakan lokakarya pembuatan gantungan kunci dari tutup botol plastik. Kegiatan ini memperkenalkan cara sederhana memanfaatkan limbah plastik menjadi produk kreatif sekaligus mendorong masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola barang bekas.
Melalui pendekatan tersebut, pesan pelestarian lingkungan tidak hanya disampaikan melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang melibatkan partisipasi pengunjung.
Siapkan Kolaborasi untuk Pameran Berikutnya
Sementara itu, untuk pameran tahun ini, SavEnvironment masih berada dalam tahap perancangan dan berencana menjalin kolaborasi dengan sejumlah pihak. Konsep serta bentuk kegiatan yang akan dihadirkan masih dalam proses penyusunan.
Meski demikian, isu lingkungan tetap menjadi perhatian utama komunitas tersebut dalam merancang kegiatan berikutnya.
Melalui berbagai inisiatif yang dijalankan, SavEnvironment berupaya menjadikan kreativitas sebagai jembatan untuk mendekatkan persoalan lingkungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Komunitas ini berharap semakin banyak masyarakat terlibat dalam menjaga lingkungan, mulai dari mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilah sampah, hingga memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.
Pada akhirnya, upaya menjaga kelestarian bumi tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama dapat menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran serta perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Sebab, menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama.(Lie)







