Cegah Pelecehan Seksual, Program Boneka Kita Hadirkan Edukasi Ramah Anak di Sumut

MEDAN | TIME LINE NEWS IDN.com,– Maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Sekolah, pesantren hingga perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan membentuk karakter justru tidak luput dari persoalan yang mengancam keselamatan serta masa depan peserta didik. Jumat (6/11/2026)

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendidikan seksual yang tepat, edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual, serta tersedianya ruang aman bagi anak dan remaja untuk menyampaikan pengalaman maupun mencari pertolongan.

Edukasi pencegahan kekerasan seksual melalui Program Boneka Kita bagi pelajar di MAN 2 Deli Serdang.
Salman Al Farici, penggagas Program Boneka Kita, saat menginisiasi edukasi literasi seksual dan pencegahan kekerasan seksual bagi pelajar guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Salman Al Farici, lulusan Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2026 sekaligus Youth Advocate di United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) Indonesia, menggagas program edukasi bertajuk Boneka Kita.

Program yang mengusung konsep Child Education Initiative ini membawa tagline “Empowering North Sumatra’s Youth with Culturally-rooted Sexual Education”. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman pelajar mengenai literasi seksual, pencegahan kekerasan seksual, serta pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.

Edukasi pencegahan kekerasan seksual melalui Program Boneka Kita bagi pelajar di MAN 2 Deli Serdang.
Salman Al Farici, penggagas Program Boneka Kita, saat menginisiasi edukasi literasi seksual dan pencegahan kekerasan seksual bagi pelajar guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.

Salman menilai pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi seluruh warga sekolah. Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai seksualitas masih perlu diperbaiki melalui edukasi yang benar, terbuka, dan sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat.

“Tidak ada cara lain selain belajar, karena masyarakat kita masih banyak yang pemikirannya salah, terutama terkait seksualitas,” jelas Salman.

Dengan dukungan pelatihan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) RI serta United Nations Population Fund (UNFPA), program Boneka Kita pertama kali direalisasikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Deli Serdang.

Dalam pelaksanaannya, Salman bersama tim menghadirkan berbagai metode pembelajaran interaktif. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan kekerasan seksual, ciri-ciri perilaku pelaku, upaya melindungi diri, serta langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi atau mengetahui tindakan kekerasan seksual.

BACA JUGA  MUI Sumut dan Al-Washliyah Perkuat Ukhuwah, Siapkan Silaturahmi Ormas Islam Se-Sumatera Utara

Metode pembelajaran dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD), pembahasan studi kasus, hingga debat antarsiswa dengan tema yang berkaitan dengan kekerasan seksual. Pendekatan ini bertujuan mendorong keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat, mengenali potensi bahaya, serta memahami pentingnya perlindungan diri.

Tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, program ini juga mendorong penyebarluasan pengetahuan melalui Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), tenaga pendidik, serta ketua dan wakil ketua kelas.

Dengan demikian, edukasi yang diberikan diharapkan dapat diteruskan kepada seluruh peserta didik sehingga pemahaman mengenai pencegahan kekerasan seksual tidak hanya berhenti pada peserta sosialisasi.

Berdasarkan survei yang disampaikan Salman, sebanyak 91 persen responden menilai kegiatan tersebut sebagai sosialisasi paling berdampak bagi mereka karena menggunakan pendekatan dan metode pembelajaran yang jarang diterapkan.

“91 persen merasa bahwa ini adalah sosialisasi paling berdampak untuk mereka karena pendekatan dan metode yang jarang diterapkan,” ujar Salman.

Capaian tersebut menjadi gambaran positif terhadap penerimaan program di lingkungan sekolah. Meski demikian, keberlanjutan edukasi dan evaluasi secara berkala tetap diperlukan agar pemahaman siswa dapat berkembang menjadi kesadaran serta perilaku yang mendukung pencegahan kekerasan seksual.

Boneka Kita juga menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat. Mengingat pendidikan seksual masih kerap dianggap sebagai pembahasan sensitif, diperlukan metode komunikasi yang tepat agar anak dan remaja dapat belajar tanpa rasa takut, malu, ataupun terintimidasi.

Melalui ruang diskusi yang terbuka dan ramah anak, peserta didik diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu mengenali situasi yang berpotensi membahayakan, memahami batasan diri, serta mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan.

Program ini sekaligus mengingatkan bahwa pencegahan kekerasan seksual bukan hanya tanggung jawab peserta didik. Pemerintah, institusi pendidikan, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan sistem perlindungan yang nyata.

BACA JUGA  Kemerdekaan Indonesia Bukanlah Hadiah Melainkan Hasil Perjuangan Panjang

Melalui Boneka Kita, Salman Al Farici berharap semakin banyak pihak terlibat dalam memperkuat pendidikan seksual dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.

Sebab, sekolah dan seluruh institusi pendidikan semestinya bukan hanya menjadi tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang yang menjamin keamanan, martabat, serta hak setiap anak untuk tumbuh dan belajar tanpa ancaman kekerasan seksual.

Penulis : Yudika Phareta Simorangkir

Editor : Lili Suheli

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Artikel Teratas

TERPOPULER

Laptop

Lenovo Terbaik 2026

IDR 7,5 Juta
Honda Vario 125 eSP

Honda Vario 125 eSP

IDR 27,5 Juta

BYD M6 hingga Hilux Rangga

IDR 194,3 Juta